Minggu, 12 Januari 2014

KISAH NABI MUHAMMAD


Kisah Nabi Muhammad SAW
Kota Makkah pada waktu itu masih dikatakan jahiliyah (bodoh) . Ajaran Isa yang berupa  kitab injil dan syariatnya sudah lenyap dari tanah Makkah, sehingga mereka kehilangan peganggan maupun arah hidup mrnuju kebenaran.
Padaa saat itulah, Allah menurunkan Muhammad. Ketika itu pada bulan Rabi’ al’Awwal tahun 570 Aminah melahirkan Muhammad dalam keadaan yatim, karena pada waktu Muhammad berumur 6 bulan dalam kandungan, Abdullah telah wafat.
Tahun Kelahiran Muhammad ini disebut juga sebagai tahun gajah. Hal ini karena pada tahun ini, Makkah didatangi oleh sepasukan tentara gajah di bawah pinpinan Abrahah.
Ceritanya, Abrahah adalah pengikut nasrani (Kristen) yang fanatik. Pada waktu itu, Abrahah ingi menghancurkan kerajaan Dzu Nuwas yang beragama yahudi. Setelah kerajaan itu hancur, Abrahah membangun gereja di Yaman, tempat Dzu Nuws berada. Tempatnya di ibukota Yaman, san’a, dengan tujuan mengalihkan perhatian orang dari ka’bah yang terletak di Makkah yang tandus. Namun apa yang terjadi , harapan Abrahah tidak terkabul. Orang-orang Yaman tetap banyak yang mengunjungi ka’bah. Hal ini membuat Abrahah marah. Kemudian Abrahah menyiapkan tentaranya yang berkendaraan gajah untuk menghancurkan ka’bah. Abdul Muthalib, kakek Muhammad, ketika itu hanya pasrah kepada allah, karena Ka’bah itu rumah Allah.
Dengan kekuasaan Allah, pasukan gajah yang dipipin oleh Abrahah itu di hancurkan oleh batu-batu neraka yang di bawa burung ababil, itulah asal muasan tahun gajah.

Massa Penyusunan
            Setelah Muhammad dilahirkan, Aminah mencari seorang ibu susu, yang akan menyusukan Muhammad kecil.Kebiasaan menyukan bayi kepada orang lain, selain ibunya,adalah kebiasaan orang-orang arab. Kemudian didapatlah orang yang akan mengasuh dan menyusui Muhammad kecil. Ia bernama Halimah As-Sa’diyah
            Halimah sangat senang menerima Muhammad kecil. Bahkan setelah kedatangan Muhammad, kehidupan Halimah menjadi lebih baik. Semula kehidupannya sangat miskin. Anaknya sendiri pun sering menangis karena kelaparan dan kekurangan air susu. Namun setelah Muhammad kecil datang seolah-olah berubah menjadi baik. Binatang-binatang ternak yang tadi nya kurus berubah menjadi gemuk, sehingga air susunya menjadi lebih banyak. Muhammad hidup dengan Halimah selama empat tahun.

Berganti-ganti Orang-tua Asuh
            Setelah waktu asuhan selesai, Muhammad dikembalikan lagi kepada orang-tuanya. Namun baru dua tahun tinggal dengan ibunya, tiba-tiba Ibunya Aminah, dipanggil Allah SWT. Waktu itu Muhammad berumur enam (6) tahun.
            Setelah Aminah meninggal dunia, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Pada waktu itu, Abdul Muthalib berusia 80 tahun. Dia adalah seorang pemuka Quraisy yang disegani dan di hormati oleh segenap kaum Quraisy pada umumnya dan penduduk kota Makkah pada Khususnya.
            Karena kasih sayang yang tulus Abdul Muthalib, Muhammad merasa terhibur dan melupakan kemalangannya ditinggal Ibu.
            Akan tetapi rupanya Allah ingin menguji rasul pilihannya, baru saja dua (2) tahun tinggal bersama, Abdul Muthalib, kakenya itu meninggal dunia. Sejak ditinggal kakeknya Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
            Abu Thalib mengasuh Muhammad seperti ankanya sendiri. Seri ia ajak berpergian untuk berdagang. Pernah suatu ketika, Abu Thalib mengajak Muhammad ke Syam (Syaria, sekarang). Di Syam itu, Abu Thalib dan Muhammad bertemu dengan seorang pendeta Nasrani yang bernama Buhairah. Pendeta itu melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Ketika itu Buhairah berpesan kepada Abu Thalib agar segera membawa Muhammad pulang, karena khawatir bertemu dengan orang Yahudi, niscaya mereka akan menganiaya. Lalu Abu Thalib pun segera pulang ke Makkah.
Berdagang
            Setelah dewasa Muhammad mulai hidup mandiri. Muhammad dikenal al-amin           ( yang dapat dipercaya ) sejak kecil. Ia tidak pernah berdusta atau berkata palsu. Ketika keadaan ekonomi pamannya kekurangan, Muhammad bekerja pada seorang janda yang bernama Khadijah. Janda inilah kelak menjadi istrinya.
            Karena kejujuran Muhammad, dagangan Khadijah senang kepada Muhammad. Pada suatu hari, sepulang dari Syam, Khadijah menyatakan keinginannya untuk menikah dengan Muhammad melalui pembantunya. Setelah tercapai kesepakatannya, maka pernikahan oun dilangsungkan. Pada saat itu Muhammad berumur 25 tahun sedangkan Khadijah berumur 40 tahun.



Menjadi Rasul
            Setelah berumur 40 tahun, Muhammad sering menyendiri di gua Hira untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT. Di gua itu, Muhammad memikirkan masyarakat yang sudah parah; menyembah berhala, menyombongkan diri, dan membangga-banggakan kabilah.
            Tepat pada malam 17 Ramadhan datanglah Malaikat Jibril a.s. ke gua itu. Lalu memerhatikan Muhammad untuk membaca (seperti tercantum dalam QS Al-Alaq; 1-5). Pada malam inilah, Muhammad diangkat menjadi Rasulullah.
            Setelah malaikat itu pergim Muhammad SAW. Segera pulang dan menceritakan kepada Khadijah. Khadijah kemudian menghibur suaminya itu sambil berkata “Bergembiralah suamiku, demi Tuhan, engkau diangkat menjadi Rasul bagi umat ini. Allah tidak akan mengecewakanmu; bukankah engkau selalu berkata benar, menghubungkan silaturahmi, menolong anak yatim, memuliakan tamu dan menolong setiap orang yang ditimpa kemalangan dan kesengsaraan?”
            Setelah itu, Khadijah pergi ke rumah anak pamannya yang bernama Warawah bin Naufal. Khadijah menceritakan semua yang di alami oleh suaminya. Lalu Waraqah berkata, “Quduss! Qudus! Qudus! Demi Tuhan yang jiwa Waraqah ada di tangan-Nya, jika engkau membenarkan aku hai Khadijah, sesungguhnya telah datang kepada suamimu adalah penunju, sebagaimana yang pernah datang kepada Mussa a.s. Dia sesungguhnya akan menjadi Rasul umat ini.
Dakwah Sembunyi-sembunyi
Dakwah pertama-tama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw, adalah dakwah kepada keluarganya. Dakwah ini dilakukan sembunyi-sembunyi. Orang yang mula-mula beriman adalah Khadijah , istri beliau. Lalu menyusul Ali bin Abi Thalib, kemenakannya dan Zaid bin Haritsah, budak berulah sahabat lamanya Abu Bakar.
            Setelah ilamnya Abu Bakar, semakin bannyak orang yang beriman, seperti Usman bin Affah, Zubir bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqas, Abdur Rahman bin Auf, Ubaidillah bin Jaraj, Thalhah bin Ubaidillah, Arqam bin bi Abil Araqam dan Fatimah binti Al-Khaththab beserta suaminya, Zaid bin Zaid Al-Adawi.
Dakwah Terang-terangan
            Setelah tiga tahun dakwah bersembunyi-sembunyi, Allah memerintahkan kepada Rasulullah utuk berdakwah terang-terangan. Sebagaimana firman Alllah,
            Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan (hai Muhammad..!!) segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dan orang-orang yang musyrik. (QS Al-Hijir [15]: 94)
            Setelah perintah itu turun, Rasulullah mengumpulkan kaumnya. Rasulullah berkata, “hai kaumku! Seandainya saya beritahukan kepadamu bahwa akan ada kelompok orang jahat yang akan menganiaya kita, apakah kalian mempercayai?”
            Kaum Quraisy menjawab, “Kenapa kami tidak percaya, sedang engkau adalah seorang yang tidak pernah berdusta.”
            Dengan bermacam-macam pengandaian diutarkan oleh Rasulullah mereka tetap menjawab, “Kini aku katakan bahwa akulah penyelamat kalian dari siksaan yang pedih!”
            Ketika itu Abu Jahal berteriak, “Celakalah engkau hai Muhammad, hanya untuk kepentingan ini kami dikumpulkan?”
            Kemudian Rasulullah berdiri tegak, dan turunlah firman Allah yang merupakan tangkisan kepada Abu Lahab,
            “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali sabut. (QS Al-Lahab [111]: 1-5)
            Setelah peristiwa di atas, Allah memerintahkan kepada Muhammad melalui firman-Nya.
            “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS Asy-Syura’ [26]: 214-215)
            Adik-adik..., Rasulullah kemudian mengumpulkan keluarganya. Rasul berkata, “Demi Allah, bila aku ingin membohongi manusia semuanya, maka aku ini tidak akan pernah membohongi kalian (Keluargaku Sendiri). Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, dam aku inilah rasulnya, aku kabarkan kepada kalian dan seluruh umat manusia, demi allah aku ini bisa tidur sebagaimana kamu tidur. Aku bangun sebagaimana kamu bangun. Segalanya akan di ukur degan apa yang kalian kerjakan. Segala kebaikan itu akan dibalas dengan kebaikan dan kejahatan akan dibalas dengan kejahatan pula. Bagi orang yang berbakti kepada allah balasannya adalah surga yang kekal baginya. Baginyya yang jahat, maka neraka adalah balasannya yang kekal baginya.
Sikap Kaum Quraisy
            Dengan diperkenalkannya Islam oleh Muhammad SAW. Orang-orang Quraisy banyak yang mencemooh dan mengejek Muhammad SAW. Mereka mempertahankan penyembahan terhadap berhala-berhala mereka.
            Pernah suatu hari Muhammad SAW, memasuki Masjidil Haram. Beliau melarang penyembahan terhadap berhala dan mengajurkann agar kembali mengikuti cara ibadah agama bapak mereka, Ibrahim a.s. Tapi mereka mengatakan, “Kami menyembah berhala hanyalah alat untuk mendekati diri kepada Allah.”
            Al-Quran menceritakan sikap penyembah berhala ini, "kami tidak menyembah mereka melainkan suoaya mereka mendekatkan kami kepada allah dengan sedekat-dekatnya." (QS Az-Zumar [39]:3)
            Di ayat lain diceritakan pula bahwa orang-orang Quraisy menghina dan menuduh Muhammad sebagai tukang sihir, "Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata, "Ini adalah seorang tukang sihir yang banyak berdusta" . Mengapa ia menjadikan Tuhan-tuhan itu tuhan yang itu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan (QS Ash-Shad [38]: 4-5)
           Di Surah lain,
           Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan), inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita seandainya tidak sabar (menyembah)-Nya. azab, siapa yang paling sesat jalannya." (QS Furqan [25];41-42)
          Orang-orang kafir pun mengganggap bahwa Al-Quran sebagai dongen kuno. 
          Dan orang-orang kafir berkata "Al-quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum lain, maka sesungguhnya mereka telah berbuat kezaliman dan dusta yang besar." Dan mereka berkata "Dongen-dongennggan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakan dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." (QS Furqan [25]:4-5)
          Begitulah cemoohan-cemoohan dan ejekan yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Mereka selalu berusaha menghalang-halangi dakwah Muhammad Saw.
          Sampai suatu ketika, para peminpin Quraisy mendatangi Abu Thalib, paman Muhammad, dan meminta agar membujuk Muhammad menghentikan dakwahnya itu.
          Abu Thalib berkata kepada Rasulullah, "wahai kemenakanku, baru-baru ini paman didatangi pemuka Quraisy dan menyatakan keberataan atas dakwah yang kau sampaikan. Mereka menganggap engkau menggusur adat kebiasaan mereka. Agar tidak terjadi perpecahan di antara kaum kita dan demi keselamatanmu, maka hendaknya engkau hati-hati. Aku tak ingin masalah dengan kaum Quraisy.
         Ketika mendengar nasihat seperti itu Rasulullah mengira bahwa pamannya sudah tidak mau membantu dan mengurusi dirinya, maka Rasulullah menjawab dengan tegas. "Demi Allah, wahai paman! Sekiranya mereka meletakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku, agar aku meninggalkan dakwahku, maka aku tak akan menghentikan seruanku!"
          Setelah berkata demikian, Rasulullah meninggalkan pamannya begitu saja sambil matanya berkaca-kaca. Ia merasa pamannya sudah tidak mau melindungi dirinya lagi, padahal selama ini pamannya adalah segala-galanya bagi muhammad Saw.
          "Wahai Muhammad kembalilah, jangan pergi, jangan pergi dulu," kata Abu Thalib, yang turut merasakan perasaan hati kemenakannya yang gundah itu.
          "Wahai kemenakanku, jangan salah sangka. Aku tetap melindungimu. Teruskanlah seruanmu. Sekali-kali paman tak akan menyerahkan urusan ini kepada para pemuka Quraisy". Katanya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar